Rabu, 30 November 2016

Inilah Prosedur Hukum Waralaba

Inilah Prosedur Hukum Waralaba



Jika usaha Anda terbilang sukses, Anda dapat mewaralabakan usaha tersebut agar semakin dikenal luas. Anda mungkin bingung karena terbentur masalah kurangnya pengetahuan mengenai hukum tentang waralaba. Tentunya, untuk membuat badan usaha waralaba, Anda perlu mengetahui landasan hukumnya.

Waralaba merupakan salah satu upaya untuk semakin membuat bisnis Anda moncer. Sebab, waralaba akan membuat bisnis Anda berekspansi dengan cara yang jauh lebih murah ketimbang membuka cabang yang Anda kelola sendiri.

Untuk memulainya, Anda perlu mempelajari peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Peraturan Pemerintah RI No. 42 Tahun 2007 tentang Waralaba. Dalam beleid itu, yang dimaksud dengan waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh perseorangan atau badan usaha, terhadap suatu sistem bisnis tertentu, yang bekerja memasarkan barang dan/atau jasa. Produk barang/jasa itu adalah produk yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan Perjanjian Waralaba.

Suatu usaha dapat diwaralabakan apabila memenuhi enam kriteria, yaitu; memiliki ciri khas usaha, terbukti sudah memberikan keuntungan, memiliki standar pelayanan dan barang/jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, mudah diajarkan dan diaplikasikan, memiliki dukungan berkesinambungan, dan Hak Kekayaan Intelektual-nya telah terdaftar.

Selanjutnya Anda perlu membuat Prospektus Penawaran Waralaba kepada calon Penerima Waralaba. Prospektus ini setidaknya terdiri atas; data identitas pemberi waralaba, legalitas usaha pemberi waralaba, sejarah kegiatan usahanya, struktur organisasi pemberi waralaba, laporan keuangan dua tahun terakhir, jumlah tempat usaha, daftar penerima waralaba, hak dan kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba. Prospektus tersebut harus didaftarkan di Kementerian Perdagangan, dan dari sana Anda akan mendapatkan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba. (sumber)


Baca Tips Bisnis Waralaba Lainnya di Ayopreneur.com

Selasa, 29 November 2016

Baguskah Sistem Pemasaran Waralaba yang Anda Pilih?

Baguskah Sistem Pemasaran Waralaba yang Anda Pilih?




Adanya kewajiban melakukan program pemasaran secara terpusat merupakan salah satu kekuatan sistem waralaba. Dengan mengumpulkan pendanaan dari para terwaralaba (mitra) dalam sebuah sistem, tercipta kekuatan pemasaran yang lebih besar secara kolektif. Dana yang terpusat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan oleh mitra sendirian, semisal melakukan kampanye pemasaran melalui iklan di televisi. Sebagai contoh, mitra Mc Donald di Indonesia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk beriklan di Piala Dunia 2010. Namun, mereka dapat menikmati iklan yang dilakukan oleh Mc Donald pusat. 

Selain itu, mitra tak perlu khawatir dengan masalah periklanan. Sebab, pemilik waralaba yang baik akan menyewa pakar profesional untuk menciptakan materi iklan yang lebih sempurna dibandingkan yang bisa dibuat oleh terwaralaba sendiri.

Keuntungan tersebut tentu akan memudahkan Anda yang ingin berinvestasi namun tidak ingin dipusingkan dengan sistem pemasaran yang rumit. Namun, Anda tak bisa sembarangan memilih program pemasaran sebuah waralaba. Berikut ini adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan.

1. Mendatangkan pelanggan

Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah apakah dana pemasaran dimaksud akan membawa pelanggan datang ke outlet penjualan produk sehingga membuat usaha sukses. Jika jawabannya ya, maka konflik dapat ditekan sampai ke tingkat minimum. Jika tidak, bakal terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan.

2. Apakah Anda dilibatkan?
Program pemasaran waralaba pada umumnya memberi kesempatan substansial kepada para terwaralaba menyampaikan opini untuk ditampung. Wewenang keputusan akhir memang normalnya ada pada pemilik pewaralaba. Karena masukan yang paling dekat kepada pelanggan yakni para terwaralaba. Tentu, pendapat Anda harus ditampung.

3. Terdokumentasi dengan baik
Sistem pemasaran waralaba yang dirumuskan dengan baik dan telah teruji pasti didokumentasikan secara teliti. Meski sebagai terwaralaba Anda mungkin tak diberikan keseluruhan dokumentasi pemasaran internal, Anda setidaknya mendapatkan daftar isi manual pemasarana. Hal ini akan memberi gambaran mengenai strategi yang akan disampaikan dalam progam pelatihan yang akan diikuti terwaralaba.

4. Teliti
Cara paling pasti untuk mencari tahu seberapa bagus program pemasaran sebuah perusahaan waralaba adalah dengan langsung. Mereka pasti sangat siap menjawab karena tak banyak hal yang mereka pikirkan kecuali tentang progam pemasaran. (sumber)


Baca Tips Bisnis Waralaba Lainnya

Jumat, 25 November 2016

Ciri-ciri Waralaba yang Menjanjikan

Ciri-ciri Waralaba yang Menjanjikan



Umumnya ada dua hal yang menjadi perhatian utama seseorang sebelum membeli bisnis waralaba, yaitu masalah harga dan perjanjian kerja samanya. Dua hal ini memang penting, karena menentukan kita untuk membeli atau tidak. Modal dan kerja sama, keduanya tidak boleh merugikan. Sebaliknya, sebisa mugnkin harus dapat memberi keuntungan.

Yang pertama berhubungan dengan ketersediaan modal. Di Indonesia, modal untuk membeli waralaba lebih kecil dibandingkan di luar negeri. Besarnya yaitu pada kisaran Rp10–400 juta. Uang itu sudah termasuk antara lain initial fee, renovasi, suplai, inventori, deposit biaya sebelum memulai bisnis, dan biaya pelatihan tenaga kerja. Setelah usaha berjalan, ada pula biaya royalti (royalty fee), yang besarnya 2–15 persen dari penjualan.

Hal ke dua adalah perjanjian kerja sama. Jika Anda berminat untuk membuka bisnis waralaba, Anda perlu mencermati perjanjian kerja samanya. Dalam perjanjian kerja sama akan dijelaskan hak dan kewajiban pemberi dan penerima waralaba. Jika salah satu pihak gagal memenuhi kewajibannya, maka perjanjian kerjasama waralaba dianggap batal. Namun ada juga pewaralaba yang memberi kelonggaran-kelonggaran dalam hal-hal tertentu.

Selain dua hal tersebut, Anda juga perlu tahu beberapa ciri bisnis waralaba yang menjanjikan. Ciri-ciri waralaba yang menjanjikan antara lain:
1. Memiliki sistem kuat dan bermodal besar.
2. Memiliki laporan keuangan yang rapi, mudah dibaca, dan tak dibuat
berdasarkan karangan. Akan lebih baik bila dibuat oleh akuntan publik.
3. Tak sekadar menjual bisnisnya. Tak pelit membagi pengalaman selama menggeluti usahanya, memberikan saran pada pewaralaba soal lokasi yang bagus, ada standar pelayanan dan kontrol kualitas.
4. Menyediakan pelatihan kepada tenaga kerja, hingga mereka mahir melakukan tugasnya.
5. Menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, sehingga pewaralaba tidak perlu membeli alat yang mahal.
6. Menyuplai bahannya, supaya kualitas produk di semua pewaralaba tetap terjaga.
7. Jujur pada pewaralaba mengenai manajemen dan kondisi keuangan waralaba miliknya. (sumber)


Baca Tips Bisnis Waralaba Lainnya

Kamis, 24 November 2016

Agar Usaha Franchise Cepat Balik Modal

Agar Usaha Franchise Cepat Balik Modal



Siapa yang tidak senang jika usahanya menghasilkan keuntungan lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya? Untuk itu harus melewati titik BEP (Break Even Point) alias balik modal terlebih dulu. Rata-rata usaha umumnya diperkirakan akan bisa balik modal di akhir tahun kedua, walau begitu tergantung jenis atau bidang usahanya.

Jenis usaha di bidang makanan biasanya lebih cepat balik modal dibandingkan usaha di bidang lainnya. Makanya bidang makanan ini selalu menjadi favorit calon franchisee. Walau begitu persaingan usaha di bidang makanan pun sangat ketat. Tak jarang sesama franchisee bersaing sengit karena pengaturan teritori yang makin sempit. Akibatnya omzet usaha bukannya makin meningkat, malah makin turun.

Dalam situasi begini, bagaimana mau untung kalau balik modal saja susah? Nah, supaya lebih cepat balik modal, ada beberapa ide bisnis yang bisa dilakukan para franchisees seperti yang dikutip dari Kompas.com berikut ini.

1. Lokasi strategis
Tempat usaha atau outlet di pinggir jalan utama, di persimpangan, di sudut pinggir jalan, lalu lintas yang ramai, mudah dijangkau, mudah terlihat, punya tempat parkir memadai, adalah lokasi-lokasi yang harus dipilih untuk menarik pembeli. Makin banyak pengunjung, makin besar kesempatan terjadi penjualan, makin besar omzet usaha, makin cepat balik modal.

2. Take over
Dibandingkan dengan merintis outlet baru, yang kemungkinan memerlukan waktu sampai orang mengenal tempat usaha Anda, mengapa tidak mempertimbangkan mengambil alih franchise yang sudah berjalan baik dari pemilik lama kemudian menjalankannya sendiri? Ini merupakan salah satu cara memastikan Anda akan segera mendapatkan pembeli. Dengan pelanggan yang sudah ada ditambah sedikit kreativitas dalam berpromosi, Anda akan mendapat pelanggan baru.

3. Beli hak waralaba utama
Jika memiliki dana cukup besar dan bertujuan untuk mengembangkan area bisnis di suatu daerah sasaran, Anda bisa mempertimbangkan membeli hak waralaba utama di daerah tersebut. Sehingga calon franchisee lain yang akan buka di sana harus seizin Anda. Cara ini akan menjamin teritori pengembangan usaha Anda tetap kompetitif di tengah persaingan usaha yang makin ketat.

4. Kontinuitas stok barang
Pelanggan dengan mudah...

Senin, 21 November 2016

Menjadi Mitra Franchise yang Sukses

Menjadi Mitra Franchise yang Sukses



Dalam sistem franchise (waralaba) keberadaan seorang mitra tentunya menjadi salah satu kebutuhan utama selain modal usaha. Bahkan bisa dikatakan keberhasilan bisnis franchise tidak terlepas dari kiprah dan dukungan para mitra yang bergabung dibawahnya. Hal itulah yang membuat sebagian besar franchisor melakukan seleksi cukup ketat dalam memilih calon mitra, karena mereka tidak menginginkan brand miliknya tercoreng akibat perilaku mitra yang kurang bertanggungjawab.

Memutuskan untuk membeli bisnis franchise bukan berarti melimpahkan semua tanggung jawab kepada franchisor. Karena sebagai mitra Anda pun memiliki kewajiban penuh untuk mengembangkan bisnis tersebut. Berhasil tidaknya bisnis franchise yang dijalankan di setiap lokasi tergantung oleh franchiseenya. Sehingga Anda sebagai seorang franchisee diwajibkan untuk mengikuti sistem kemitraan yang telah disepakati dan menjaga nama baik brand yang ditawarkan. Bagaimana cara menjadi mitra franchise yang sukses? Berikut tipsnya, yaitu:

a. Untuk menjadi franchisee yang sukses, sebaiknya mulailah dengan menyukai peluang bisnis yang akan Anda geluti. Bagaimanapun juga keberadaan passion atau kecintaan kita terhadap suatu bidang akan memudahkan langkah kita untuk menjalankan bisnis tersebut secara optimal. Jika dari awal franchisee sudah menyukai bidang tersebut, maka secara tidak langsung mereka akan merasa memiliki bisnis tersebut. Sehingga kemungkinan untuk meninggalkan tanggung jawab di tengah perjalanan semakin kecil.

b. Memberikan peran aktif  bagi bisnis franchise yang dijalankan. Meskipun Anda menjadi mitra dari seorang franchisor yang memberikan dukungan dengan total, namun tidak seharusnya Anda menjadi mitra yang pasif dan sangat tergantung dengan franchisor Anda. Karena Anda juga memiliki tugas yang sama untuk mengenalkan dan mengembangkan bisnis tersebut di pasaran. Jadi tidak hanya menginvestasikan sejumlah dana saja, namun juga memberikan tenaga dan pikiran Anda untuk mengembangkan bisnis franchise yang dijalankan.

c.  Mengikuti sistem franchise yang berlaku. Sebagai seorang franchisee, sudah sewajarnya bila Anda mematuhi dan mengikuti segala sistem yang telah ditetapkan franchisor dalam perjanjian kemitraan. Sehingga kerjasama yang terjalin dapat berjalan baik, tanpa ada perselisihan antara franchisee dan franchisornya.

d. Meningkatkan ilmu dan skill di dunia usaha. Sebagai seorang mitra Anda dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan luas di bisnis tersebut. Hal ini penting, karena Anda membutuhkan strategi-strategi jitu untuk mengembangkan bisnis sekaligus membangun image atau citra baik dari merek yang ditawarkan.

Setelah membahas beberapa tips bisnis yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang franchisee ideal, diharapkan dapat memberikan manfaat para pembaca yang tertarik dengan dunia franchise. Jadilah franchisee yang ideal dan jadilah pelaku bisnis yang benar-benar andal. (sumber)

Baca Tips Bisnis Waralaba Lainnya di Ayopreneur

Jumat, 18 November 2016

Yang Dibutuhkan dalam Bisnis Franchise

Yang Dibutuhkan dalam Bisnis Franchise




Salah satu cara mudah memulai bisnis sendiri adalah dengan ikut serta bisnis franchise (waralaba). Peminat waralaba tinggal memilih usaha apa yang ingin dia jalani, tentu dengan menyesuaikan kemampuan modal dan keahlian yang dimilikinya.

Varian bisnis franchise sendiri cukup luas. Mulai dari usaha makanan, laundry, pakaian, hingga jasa pindah. Tiap bisnis juga bisa dimulai sesuai kemampuan modal karena pemilik waralaba biasanya membuat level-level yang bisa dipilih calon pembeli lisensi.

Sebelum memutuskan memilih franchise tertentu, pastikan Anda memiliki semua yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini seperti yang dilansir situs konsultanwaralaba.com.

Pengetahuan
Tahap awal semua usaha adalah memiliki pengetahuan tentang usaha yang akan Anda masuki. Lakukanlah riset tentang sistem dan jenis waralaba yang Anda minati. Perkaya juga 'modal' Anda dengan pengetahuan mengenai aspek hukum yang berhubungan dengan bisnis tersebut.

Modal
Perhitungkan modal yang Anda miliki ketika akan menentukan jenis bisnis waralaba yang akan Anda geluti. Jika belum yakin, mulailah dengan level paling rendah yang ditawarkan pemberi waralaba. Pastikan Anda juga mampu memenuhi persyaratan lain seperti ketersediaan ruang dan tempat berjualan.

Mengikuti sistem
Setelah menjatuhkan pilihan pada satu jenis waralaba, fokus dan berkomitmenlah untuk mengikuti sistem yang ditentukan pemberi waralaba. Pastikan Anda tidak menyalahi aturan yang telah disepakati bersama.

SDM berkualitas
Jika akan mempekerjakan orang lain, pastikan mereka memiliki kualitas yang dapat mendukung usaha Anda. Jangan lupa untuk meningkatkan kemampuan pegawai Anda dengan mengikutsertakan mereka pada berbagai pelatihan secara berkala.

Jangan hanya fokus pada sistem pemasaran dan manajemen, tetapi lupa pada pengembangan profesionalitas pegawai. Sebab, merekalah yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan usaha waralaba Anda.

Manajemen yang baik
Kepopuleran merek waralaba yang kita usung tidak akan ada artinya jika kita tidak mengelola usaha kita dengan baik. Manajemen di sini tidak melulu mengenai kondisi keuangan, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan mengembangkan usaha.

Buatlah perencanaan bisnis dengan matang. Meskipun pemberi waralaba telah memiliki pakem bisnis tersendiri, bukan berarti Anda tidak perlu merencanakan bisnis Anda. Dengan perencanaan yang baik, tidak mustahil usaha Anda akan berkembang pesat, atau bahkan Anda memulai merek waralaba sendiri.

Inovatif dan kreatif

Hal lain yang juga diperlukan untuk mengembangkan bisnis waralaba Anda adalah inovasi dan kreativitas. Berpikirlah di luar kotak untuk mencapai kesuksesan. Misalnya, menggunakan cara-cara unik dalam mempromosikan usaha Anda.

Relasi bisnis
Kesuksesan sebuah bisnis juga ditentukan dengan kemampuan Anda menjaga hubungan dengan relasi bisnis, pelanggan, maupun karyawan di perusahaan Anda.

Konsultasi
Meski saat ini banyak literatur yang memberi penjelasan tentang bisnis waralaba, berkonsultasi dengan konsultan tetap menjadi langkah terbaik untuk mencari solusi atas semua masalah yang Anda hadapi.

Carilah konsultan waralaba yang terpercaya dan berpengalaman. Mereka biasanya akan memberikan bimbingan dari awal hingga Anda mampu menjalankan bisnis Anda sendiri. (sumber)


Baca Tips BisnisWaralaba Lainnya

Selasa, 15 November 2016

Investasi Dalam Bisnis Waralaba

Investasi Dalam Bisnis Waralaba



Ada satu persamaan antara saham dan waralaba yaitu investor yang berminat kepadanya akan sama-sama menginvestasikan uangnya ke dalam suatu bisnis. Investor mendapatkan tingkat pertumbuhan dalam jangka panjang juga mendapat pendapatan usaha. Jika tidak mendapatkan imbal hasil yang memadai pada periode waktu yang diharapkan, investor bisa rugi.

Bagaimana jika modal saja yang kembali tetapi tidak ada keuntungan? Bukankah masih lumayan dibandingkan dengan tidak mendapat apa-apa sama sekali. Itu sih sama saja rugi, mendingan disimpan di tabungan atau deposito bank saja. Perhitungkan dengan cermat terhadap dana yang akan diputar ketika bergabung dengan sebuah franchise. Ingat tak ada jaminan bahwa bisnis Anda akan langsung dikerumuni konsumen, seterkenal apa pun merek dari produk atau jasa yang Anda jual.

Investasi awal dan biaya berlangsung
Dalam sedikit hal menjadi seorang terwarala-ba/franchisee, mirip dengan seorang investor. Anda menanamkan uang untuk mendapatkan keuntungan. Namun, dalam jauh lebih banyak hal franchisee adalah pebisnis. Sayangnya franchisee sering kali terlalu optimistis, menganggap bahwa membeli waralaba itu artinya tinggal terima untung saja. Terlalu mengandalkan franchisor-nya atau berharap sistemnya bekerja dengan sendirinya. Mana mungkin!

Sebagai pebisnis franchisee selayaknya aktif memajukan gerainya, memastikan bahwa sistem sudah berjalan dengan baik. Jadi jangan mudah terpesona dengan perhitungan titik impas di atas kertas, yang sering kali terpampang dengan gagahnya di materi promosi franchisor. Itu hanya ilustrasi tak ubahnya seperti agen asuransi memberikan ilustrasi pertumbuhan unitlink. Kenyataan di lapangan bisa sangat berbeda. Titik impas ini baru titik impas penjualan saja, belum balik modal.

Makanya memperhitungkan kapan balik modal dan berapa tingkat keuntungan yang memadai dari usaha waralaba, Anda akan menentukan efektivitas dari perkembangan dana pada usaha waralaba. Untuk itu, paling tidak ada dua jenis biaya dari waralaba yang harus Anda siapkan, pertama, investasi awal dan kedua, biaya berlangsung.

Investasi awal adalah modal awal yang yang harus kita tanamkan atau yang dibutuhkan untuk memulai usaha waralaba, antara lain:
  • License Fee, adalah biaya pembelian hak untuk menggunakan nama merek waralaba dan konsep bisnisnya. Tempat usaha. Sama seperti bisnis lain, Anda harus memiliki tempat usaha. Bentuknya bisa bermacam-macam mulai dari bangunan permanen yang dibeli atau disewa, booth, sampai toko online, sesuai spesifikasi dari franchisor.
  • Inventaris dan peralatan adalah biaya yang berkaitan dengan inventaris dan pembelian peralatan usaha. Modal Kerja. Diawal usaha memerlukan modal kerja sebagai cadangan untuk penggajian, dan overhead (utilitas). Umumnya franchisor akan meminta Anda mencadangkan suplai bahan baku dan modal kerja sebesar 3-6 bulan operasional.

Biaya berlangsung adalah biaya rutin yang dibayar selama usaha beroperasi yaitu: royalti. Pemilik waralaba juga mengenakan biaya royalti yang berkelanjutan. Namun, tidak semua waralaba membebankan royalti.

Biaya operasional adalah biaya rutin (bulanan/tahunan) yang dikeluarkan agar usaha dapat menjalankan aktivitas usahanya. Baik investasi awal maupun biaya berlangsung merupakan biaya yang akan memengaruhi keuntungan usaha. Prinsipnya makin kecil biaya makin besar keuntungan. Bagusnya saat ini bagi calon franchisee dengan kemampuan modal terbatas dapat mengajukan pembiayaan untuk usaha waralaba ke bank umum maupun bank syariah.


Titik impas
Titik Impas dapat diartikan suatu keadaan di mana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. Dengan analisis titik impas franchisee dapat memperkirakan jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan.

Rumusnya adalah biaya tetap total/(harga per unit barang yang dijual dikurangi biaya variabel per unit). Misalnya ada waralaba kebab Turki yang harga satu buah kebabnya Rp8.000 dengan biaya variabel sebesar Rp3.000 per kue dan biaya tetap total sebesar Rp7.000.000. Titik impas berarti Rp7.000.000/(Rp8.000-Rp3.000), ketemu angka Rp1.400. Jadi usaha waralaba Anda harus menjual 1.400 buah kebab Turki pada harga Rp8.000 supaya impas. Jika setiap hari gerai Anda bisa menjual minimum 10 buah kebab, titik impas akan tercapai dalam waktu 4-5 bulan. Untuk mendapatkan keuntungan Anda tinggal menambahkan margin pada harga kebabnya.

Dari contoh ini dapat kita lihat bahwa pada titik ini (pengeluaran sama dengan pendapatan) kita tidak merugi dan juga tidak untung dan tentu saja pada titik ini pengembalian investasi masih jauh dari yang diharapkan. Anda juga harus menanyakan tentang pendapatan yang sebenarnya dari franchisee yang lain, bukan mengenai hasil yang dijanjikan oleh franchisor.


Tingkat keuntungan
Tingkat keuntungan atau balik modal didefinisikan sebagai persentase dari pendapatan yang diperoleh dari suatu investasi, setelah dikurangi biaya. Masalahnya balik modal waralaba tidak seperti bunga deposito yang tetap, tetapi berfluktuasi sesuai dengan kinerja usaha. Begitu Anda menanam investasi awal waralaba, maka modal pokok ini harus terus berputar. Karena waralaba adalah investasi aktif bukan pasif seperti pada instrumen keuangan, di mana diri Anda juga secara aktif terlibat di situ. Oleh karena itu balik modal waralaba diharapkan lebih tinggi dari investasi pada instrumen keuangan.

Balik modal waralaba akan berkaitan langsung dengan jenis bisnis, model bisnis, dan kondisi pasar dan setidaknya sebagian oleh keterampilan dan keahlian manajemen Anda dalam mengelola usaha. Dalam waralaba, besar kecilnya investasi tidak selalu berkorelasi dengan tingkat keuntungan, melainkan harus dikombinasi dengan waktu, bakat dan keterampilan manajemen Anda sendiri. Oleh karena itu penting untuk berhati-hati memilih waralaba yang cocok dengan minat dan pengalaman Anda. (sumber)


Baca Tips Bisnis Waralaba Lainnya di Ayopreneur